Tradisi dan Budaya

[tradisi][threecolumns]

Sosial dan Komunitas

[sosial][list]

Pariwisata dan Rekreasi

[pariwisata][threecolumns]

Ekonomi

[ekonomi][list]

Politik

[politik][twocolumns]

Olahraga

[olahraga][bleft]

Pendidikan

[pendidikan][list]

Kesehatan

[kesehatan][list]

Hiburan

[hiburan][threecolumns]

Lingkungan

[lingkungan][list]

Teknologi

[teknologi][list]

Administrasi Pemerintahan

[pemerintah][twocolumns]

Laporan Otonomi Baru

[pemekaran][list]

Laporan Otonomi Khusus

[otonomi khusus][list]

Hukum dan Kriminal

[hukum][threecolumns]

Kecelakaan

[kecelakaan][list]

Bencana Alam

[bencana][list]

Sunday, 5 February 2017

Demi Burung Cenderawasih, Benedict Allen dan Frank Gardner Kunjungi Suku Orang Buaya

LONDON (INGGRIS) - Petualang asal Inggris, Benedict Allen dan seorang reporter televisi asal Inggris yang lumpuh akibat serangan teroris 13 tahun yang lalu Frank Gardner, melakukan perjalanan ke  Papua Nugini.

Meski pulau yang dinegaranya ini dinilai sebagai orang sebagai tempat yang dikerumuni nyamuk, kedua orang inggris ini mengaku tidak terpengaruh oleh hal itu. Selama empat hari mereka masuk ke wilayah Suku Yaifo.

"Kami masuk jauh kedalam rawa-rawa, dalam perjalanan untuk bertemu suku yang dikenal sebagai Orang Buaya," ujar Frank seperti dikutip Dailymail pada Sabtu (4/12).

Meski panas dan lembap Benedict dan Frank mengakui suasana dan pemandangan yang indah  dan terbuka di sepanjang Sungai Sepik, wilayah Utara PNG itu dapat menyenangkan hati mereka. Sembari menuturkan alasan perjalanan mereka itu.

"Aku selalu merindukan untuk melihat Burung Cendrawasih di alam liar. Setelah saya tertembak oleh teroris di Arab Saudi 13 tahun yang lalu (cedera meninggalkan kaki saya sebagian besar lumpuh), aku berbaring di tempat tidur berpikir rumah sakit saya: 'Sial, mengapa aku tidak pergi ke Papua Nugini ketika saya bisa memiliki? Sekarang saya sudah meninggalkannya terlambat," ungkap Frank.

Tapi kemudian kesempatan untuk melaksanakannya dapat terwujud setelah pertemuannya dengan Benediktus Allen.

"Hal ini membuat saya sadar mengatakan tidak terlalu terlambat. Tak gentar dengan kursi roda, Benediktus menawarkan untuk membawa saya ke sebuah negara di mana ia menghabiskan hidupnya berada di antara suku-suku terpencil di tahun 1980-an," ujar Frank.

Mereka berdua tidak melewatkan dengan bagian-bagian terpenting dari aktivitas suku itu, ia menawarkan diri kembali maka untuk berpartisipasi dalam sebuah ritual untuk anak laki-laki menjadi pria suku itu dan stasiun TV Inggris, BBC tertarik dengan program yang ditawarkan.

"Kami tidur di pondok yang beratap daun kelapa, waspada terhadap hewan-hewan yang merayap di atas kepala kami. Setelah tenang ternayata Simon juru kamera kami terbangun di tengah malam dan berteriak kalau ada seekor tikus baru saja jatuh dari atap ke wajahnya," ungkap Frank.

Selain petualangan yang menegangkan, mereka disajikan makanan papeda dan berbagai umbi-umbian. Sambil juga menikmati ulat sagu hidup yang membuat perut mereka mual selama satu hari, sebab belum terbiasa dengan hal tersebut.

"Namun, meskipun semua kesulitan kami alami, hal itu sangat layak. Sebaba orang Papua yang baik hati, telah merawat dan  dengan penuh kesabaran menjaga kami sehingga mereka tidak ada niat menjatuhkan saya di curam," ungkapnya melucu.

Pemandangan itu spektakuler: ada jurang lumpur-diisi dan menjulang pohon buah-buahan, dan satu malam kami berkemah di atas 10.000 kaki di dataran tinggi di dalam pondok rumput, napas kami frosting di udara dingin seperti yang kita panggang ubi jalar di atas bara api.

Sementara tujuan utama mereka untuk melihat burung cendrawasih. Ia menyatakan selama tiga dekade ini ia sama sekali belum pernah melihat burung itu secara hidup-hidup. Dan ini waktunya untuk emlihatnya.

"Aku belum tahu apa-apa banyak tentang burung itu, kecuali mereka memiliki bulu yang megah dan indah. Saya hanya bisa berharap beberapa teman lama akan mengulurkan tangan - dan pikiran saya berubah ke desa Kandengei," ujarnya.

Petualangan ini awalnya sebagai pernyataan persahabtan antara dua pria di sebuah bar yang ingin saling membantu, dan sekarang seluruh masyarakat Inggris terlibat dalam janji ini.

"Mereka ingin bersama-sama melihat kita menemukan burung itu. Apakah kami menemukan burung itu ? Saya disumpah untuk menjaga rahasia. Namun perjalanan tidak pernah sepenuhnya tentang kami berdua. Sebab ini juga tentang petualangan di tanah yang paling spektakuler di dunia ini," tutup Frank. (papuanesia/dailymail)
Silahkan berkomentar
  • Blogger Berkomentar dengan Blogger
  • Facebook Berkomentar dengan Facebook
  • Disqus Berkomentar dengan Disqus

No comments :