Tradisi dan Budaya

[tradisi][threecolumns]

Sosial dan Komunitas

[sosial][list]

Pariwisata dan Rekreasi

[pariwisata][threecolumns]

Ekonomi

[ekonomi][list]

Politik

[politik][twocolumns]

Olahraga

[olahraga][bleft]

Pendidikan

[pendidikan][list]

Kesehatan

[kesehatan][list]

Hiburan

[hiburan][threecolumns]

Lingkungan

[lingkungan][list]

Teknologi

[teknologi][list]

Administrasi Pemerintahan

[pemerintah][twocolumns]

Laporan Otonomi Baru

[pemekaran][list]

Laporan Otonomi Khusus

[otonomi khusus][list]

Hukum dan Kriminal

[hukum][threecolumns]

Kecelakaan

[kecelakaan][list]

Bencana Alam

[bencana][list]

Sunday, 26 March 2017

Bulog Kesulitan Serap Produksi Cabai Lokal

KOTA JAYAPURA - Bulog Divisi Regional (Divre) Papua dan Papua Barat mengaku kesulitan menyerap cabai produksi lokal untuk membantu pemerintah menekan harga komoditas tersebut dan dalam beberapa bulan terakhir sangat fluktuatif, bahkan sempat mencapai Rp200 ribu/kg.

"Bulog tidak akan tinggal diam, Bulog berusaha menekan supaya harga cabai tidak melambung tinggi. Kita coba temui petani dan ternyata keluhannya adalah jumlah produksi menurun karena iklim yang buruk," ujar Kepala Bulog Divre Papua dan Papua Barat Muhammad Attar Rizal, di Jayapura, Jumat.

Ia menjelaskan pihaknya memiliki divisi yang bertugas memantau perkembangan harga beberapa komoditi pangan pokok, termasuk juga cabai.

Menurutnya dengan kondisi saat ini Bulog tidak bisa berbuat banyak untuk menekan harga cabai karena hasil produksi lokal sangat terbatas.

"Terakhir hari ini di Pasar Hamadi harga cabai Rp140 ribu/kg, kita mau membeli untuk membantu masyarakat tapi petani tidak panen. Kemarin kita beli cabai dari Merauke dengan harga Rp100 ribu/kg lalu ditambah ongkos angkut, tapi volumenya juga tidak banyak," kata dia.

Rizal menyebut Kabupaten Merauke yang memiliki areal pertanian paling luas di Papua pun tidak bisa memasok kebutuhan cabai di wilayah Papua lainnya karena penurunan hasil produksi.

Menurutnya tugas Bulog adalah untuk menstabilisasi harga pangan pokok. Terkait dengan kenaikan harga cabai di Papua, sangat terpengaruh dari suplai yang sebagian besar masih dipasok dari Sulawesi Utara.

Sebelumnya Dinas Pertanian Kota Jayapura mengungkapkan jumlah produksi cabai di Kota Jayapura hanya mampu memenuhi 10 persen dari total kebutuhan komoditi tersebut dan sisanya berasal dari pasokan luar pulau.

"Produksi lokal hanya bisa memenuhi 10 persen dari total konsumsi karena luas tanam cabainya hanya 70 hektare. Luas tambah tanam itu sangat tergantung dari jumlah petani dan mekanisasi," ujar Kepala Dinas Pertanian Kota Jayapura Jean Rollo. (antara)
Silahkan berkomentar
  • Blogger Berkomentar dengan Blogger
  • Facebook Berkomentar dengan Facebook
  • Disqus Berkomentar dengan Disqus

No comments :