Tradisi dan Budaya

[tradisi][threecolumns]

Sosial dan Komunitas

[sosial][list]

Pariwisata dan Rekreasi

[pariwisata][threecolumns]

Ekonomi

[ekonomi][list]

Politik

[politik][twocolumns]

Olahraga

[olahraga][bleft]

Pendidikan

[pendidikan][list]

Kesehatan

[kesehatan][list]

Hiburan

[hiburan][threecolumns]

Lingkungan

[lingkungan][list]

Teknologi

[teknologi][list]

Administrasi Pemerintahan

[pemerintah][twocolumns]

Laporan Otonomi Baru

[pemekaran][list]

Laporan Otonomi Khusus

[otonomi khusus][list]

Hukum dan Kriminal

[hukum][threecolumns]

Kecelakaan

[kecelakaan][list]

Bencana Alam

[bencana][list]

Friday, 31 March 2017

Dinkes Papua Bentuk Tim Tanggap Darurat ke Perkampungan Suku Korowai

 
KOTA JAYAPURA- Dinas Kesehatan Provinsi Papua membentuk tim tanggap darurat untuk diturunkan ke perkampungan Suku Korowai, di perbatasan Kabupaten Yahukimo, Asmat, Boven Digoel dan Nduga yang nyaris warganya tak tersentuh pelayanan kesehatan di provinsi itu.

Pembentukan tim kesehatan itu untuk menyikapi unjuk rasa mahasiswa korowai menuntut pemerataan pelayanan kesehatan yang dilakukan di Kantor Dinas Kesehatan Papua pada Rabu (29/3).

"Untuk solusi dari bidang kesehatan di Korowai, dalam bulan April 2017 ini kami akan turunkan tim tanggap darurat ke Korowai," kata Kadinkes Papua, Aloisius Giyai ketika dikonfirmasi dari Jayapura, Kamis.

Selanjutnya, setelah Mei 2017 Dinas Kesehatan Papua akan menempatkan tim kesehatan satuan tugas kaki telanjang/terapung ke wilayah Suku Korowai.

"Tim satgas kesehatan kaki telanjang/terapung yang kontrak selama dua tahun untuk bertugas di Korowai," ujarnya.

Sebelumnya, puluhan mahasiswa berunjuk rasa di Kantor Dinas Kesehatan Provinsi Papua dan Gedung DPRP, pada Rabu dengan agenda meminta pemerintah peduli pada urusan kesehatan suku Korowai yang hidup terpencil di pedalaman.

"Setiap tahun ada sekitar 60 orang meninggal dari Suku Korowai akibat sakit yang tidak pernah mendapat pelayanan kesehatan," kata Ketua Tim Peduli Kesehatan dan Pendidikan (TPKP) Rimba Papua, Norberd Kemi Bobii, saat berunjuk rasa.

Menurut dia aksi damai itu dilakukan sebagai refleksi kemanusiaan di tengah derasnya Otonomi Khusus Papua dan melimpahnya laba Freeport yang diterima pemerintah, banyak warga Papua belum mendapatkan pelayanan di sektor kesehatan.

"Seharusnya masalah kesehatan perlu dipandang sebagai salah satu titik keberhasilan bagi rakyat Papua dan pemerintahan, tetapi tidak ada perhatian oleh berbagai kalangan," ujarnya.

Dia mengatakan secara khusus masyarakat Korowai perlu mendapat perhatian serius, jangan ada pembiaran karena ini berdampak terhadap angka harapan hidup yang kian menipis atau rendah dan berdampak terhadap pendidikan dan ekonomi masyarakat setempat. (antara)
Silahkan berkomentar
  • Blogger Berkomentar dengan Blogger
  • Facebook Berkomentar dengan Facebook
  • Disqus Berkomentar dengan Disqus

No comments :