Tradisi dan Budaya

[tradisi][threecolumns]

Sosial dan Komunitas

[sosial][list]

Pariwisata dan Rekreasi

[pariwisata][threecolumns]

Ekonomi

[ekonomi][list]

Politik

[politik][twocolumns]

Olahraga

[olahraga][bleft]

Pendidikan

[pendidikan][list]

Kesehatan

[kesehatan][list]

Hiburan

[hiburan][threecolumns]

Lingkungan

[lingkungan][list]

Teknologi

[teknologi][list]

Administrasi Pemerintahan

[pemerintah][twocolumns]

Laporan Otonomi Baru

[pemekaran][list]

Laporan Otonomi Khusus

[otonomi khusus][list]

Hukum dan Kriminal

[hukum][threecolumns]

Kecelakaan

[kecelakaan][list]

Bencana Alam

[bencana][list]

Friday, 24 March 2017

Lahan Kritis di Provinsi Papua Barat Masih 12 Persen

MANOKWARI - Kepala Balai Pengawasan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung Remu Ransiki Punto Irsilo menyatakan lahan kritis dinilai masih cukup rendah atau sekitar 12 persen dari total luas wilayah Provinsi Papua Barat.

Ditemui di Manokwari Rabu Punto menjelaskan lahan kritis di daerah ini masih sekitar 12 persen dari total luas hutan Papua Barat.

Meskipun demikian, upaya penghijauan dan menjaga hutan serta lahan harus terus dilakukan. Sebab, kondisi keseimbangan ekosistem daerah aliran sungai (DAS) berbeda antara satu dengan yang lain.

Dia menjelaskan DAS satu wilayah kesatuan yang menyimpan dan menyalurkan air hujan melalui sungai-sungai yang ada di dalamnya.

Menurutnya daerah yang tutupan pohon atau vegetasinya masih cukup rapat atau bagus belum tentu lokasi tersebut aman dari ancaman banjir.

"Misalnya di satu wilayah vegetasinya masih 90 persen dan hanya dua persen yang dikonversi untuk pemanfaatan lainya, belum tentu daerah tersebut aman dari banjir," ujarnya.

Punto mengungkapkan, banjir yang sering terjadi di Kali Wosi Manokwari, terjadi bukan karena tutupan lahan yang berkurang, melainkan akibat sampah dan volume sungai yang mulai menciut "Itu banjir lintasan bukan genangan, volume air yang besar dari hulu tertahan oleh air laut yang saat itu pasang sehingga air sungai meluap," katanya.

Sementara banjir di Sungai Wariori, yang merusak lahan pertanian warga, Senin (20/3) lalu, menurut dia masih perlu kajian. Keseimbangan ekosistem kawasan kondisi sungai harus dikaji secara mendetail. (antara)
Silahkan berkomentar
  • Blogger Berkomentar dengan Blogger
  • Facebook Berkomentar dengan Facebook
  • Disqus Berkomentar dengan Disqus

No comments :