Tradisi dan Budaya

[tradisi][threecolumns]

Sosial dan Komunitas

[sosial][list]

Pariwisata dan Rekreasi

[pariwisata][threecolumns]

Ekonomi

[ekonomi][list]

Politik

[politik][twocolumns]

Olahraga

[olahraga][bleft]

Pendidikan

[pendidikan][list]

Kesehatan

[kesehatan][list]

Hiburan

[hiburan][threecolumns]

Lingkungan

[lingkungan][list]

Teknologi

[teknologi][list]

Administrasi Pemerintahan

[pemerintah][twocolumns]

Laporan Otonomi Baru

[pemekaran][list]

Laporan Otonomi Khusus

[otonomi khusus][list]

Hukum dan Kriminal

[hukum][threecolumns]

Kecelakaan

[kecelakaan][list]

Bencana Alam

[bencana][list]

Friday, 21 April 2017

GKII Berharap Pemkab Jayawijaya Tetapkan 20 April Sebagai Hari Libur

GKII Berharap Pemkab Jayawijaya Tetapkan 20 April Sebagai Hari Libur
WAMENA (JAYAWIJAYA) - Pihak Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) Wilayah Papua berharap Pemerintah Kabupaten Jayawijaya menetapkan tanggal 20 April sebagai hari libur fakultatif terkait peringatan injil masuk di Lembah Baliem.

"Kami usulkan kepada pemerintah kalau bisa tanggal 20 April dijadikan tanggal merah khusus untuk Jayawijaya, supaya seluruh masyarakat bisa ikut merayakan peringatan injil masuk di Lembah Baliem," kata Felix Asso selaku ketua panitia ibadah peringatan HUT injil masuk di Lembah Baliem, ketika ditemui di Kurima, Kabupaten Jayawijaya, Rabu.

Kebijakan itu, kata warga jemaat Gereja Kummper Harapan ini, nantinya merupakan hal positif, sebagaimanaya yang ditetapkan Pemerintah Provinsi Papua untuk tanggal 5 Februari sebagai hari libur bersama dalam rangka peringatan injil masuk di Tanah Papua.

Ia menjelaskan bahwa tanggal 20 April 1954 merupakan hari bersejarah bagi masyarakat Lembah Baliem, sebab saat itu masyarakat mulai mengenal Tuhan dan dapat menerima keberadaan penduduk dari luar Jayawijaya.

Sebelum injil masuk di Lembah Baliem, kata dia, masyarakat hidup dalam keterbelakangan dan selalu melakukan tindakan kriminal.

"Karena injil, kita (masyarakat lokal) bisa terima masyarakat dari luar daerah untuk datang dan tinggal sama-sama dengan kita," katanya.

Sebelumnya, Pendeta Adams, dalam khotbahnya pada Ibadah HUT mengatakan awal misionaris membawa ijil ke wilayah pegunungan Papua, banyak kendala yang dihadapi.

Namun seiring waktu, masyarakat yang sebelumnya tidak mau menerima kehadiran injil kini mulai terbuka dan sudah membangun gereja di permukiman.

"Kami dilempari dengan batu oleh masyarakat, bahkan teman saya (sesama pendeta) kepalanya keluar darah dan satunya pingsan. Anak saya yang masih kecil saya sembunyikan di balik mimbar supaya tidak terkena lemparan. Tetapi sekarang dapat kita lihat bahwa tempat yang dulunya masyarakat tidak menerima kami, sudah membangun gereja, bahkan membakar jimat-jimat yang sebelumnya mereka sembah," kata warga kebangsaan Amerika itu.

Ibadah yang berlangsung di Halaman Gedung Gereja Kummper Harapan, Jalan Kurima, dihadiri ratusan lebih masyarakat dari beberapa distrik berbeda, termasuk perwakilan dari pemerintah dan DPRD setempat. (antara)
Silahkan berkomentar
  • Blogger Berkomentar dengan Blogger
  • Facebook Berkomentar dengan Facebook
  • Disqus Berkomentar dengan Disqus

No comments :