Tradisi dan Budaya

[tradisi][threecolumns]

Sosial dan Komunitas

[sosial][list]

Pariwisata dan Rekreasi

[pariwisata][threecolumns]

Ekonomi

[ekonomi][list]

Politik

[politik][twocolumns]

Olahraga

[olahraga][bleft]

Pendidikan

[pendidikan][list]

Kesehatan

[kesehatan][list]

Hiburan

[hiburan][threecolumns]

Lingkungan

[lingkungan][list]

Teknologi

[teknologi][list]

Administrasi Pemerintahan

[pemerintah][twocolumns]

Laporan Otonomi Baru

[pemekaran][list]

Laporan Otonomi Khusus

[otonomi khusus][list]

Hukum dan Kriminal

[hukum][threecolumns]

Kecelakaan

[kecelakaan][list]

Bencana Alam

[bencana][list]

Friday, 7 April 2017

Jalur Penerbangan Australia - Papua Akan Dibuka

 
DENPASAR (BALI) - Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perhubungan akan membuka jalur penerbangan Australia - Papua. Hal ini diungkapkan Direktur Utama Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (LPPNPI/Airnav Indonesia) Novie Riyanto.

Ia mengatakan selama 10 tahun terakhir pemerintah sudah menjalin kerja sama dengan Australia terkait navigasi penerbangan, dan hal ini menjadi upaya peningkatan kerjasama tersebut.

"Selama ini kita sudah tukar-menukar informasi lalu lintas penerbangan, dan kita juga akan mengembangkan rute baru di atas Papua," katanya dalam Forum Sektor Transportasi Indonesia-Australia di Denpasar, Kamis (6/4)

Saat ini, lanjut dia, belum ada frekuensi penerbangan dari luar negeri ke Papua. Sementara niat orang Australia untuk ke Papua sangat besar. Sehingga wacana ini akan ditingkatkan ke depannya agar lebih banyak pesawat Australia masuk ke Papua.

"Bandara Jayapura 'kan internasional jadi dari situ kita hubungkan ke Wamena dan daerah-daerah lain," ujarnya.

Sementara itu Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub Agus Santoso saat ini ada tiga bandara yang baru ditawarkan untuk investasi pembuka jalur penerbangannya dari Australia. Yakni Bandara Komodo Nusa Tenggara Timur, Bandara Internasional Lombok Nusa Tenggara Barat dan Bandara Bali Utara.

"Ketiga bandara ini potensial karena letaknya dekat dengan destinasi pariwisata," ucapnya.

Karena daerah wisata, lanjut dia, penumpang yang berkunjung biasanya membawa keluarga bukan perseorangan, hal itu dinilai sangat potensial ke depannya.

"Yang datang ini, bukan 'single tourist' tetapi mereka membawa anggota keluarganya, ini lalu lintasnya akan terus meningkat," ujarnya.

Selain itu, dia menambahkan yang ditawarkan bukan hanya kerja sama pengelolaan bandara di sisi darat, misalnya, tetapi juga didorong untuk berinvestasi di kawasan sekitar bandara atau dijadikan "Airport City", contoh yang potensial yaitu di Mandalika di NTB.

"Contohnya di Nusa Dua ini, dulunya tidak ada yang melirik, begitu dikembangkan, banyak hotel banyak resor, selalu penuh bahkan untuk acara-acara internasional," tuturnya.

Terkait Bandara Bali Baru di sebelah Utara, pihaknya telah menawarkan kepada Australia karena akan menjadi alternatif Bandara Ngurah Rai yang semakin padat.

"Ngurah Rai ini masih 'single runway' (landasan pacu hanya satu), jadi sulit untuk dikembangkan, karena itu kita butuh bandara baru, ini sangat menarik juga Bandara Kulon Progo," imbuhnya.

Di samping itu, lanjut Agus, kerja sama juga akan ditingkatkan di bidang navigasi penerbangan mengingat hampir seluruh penerbangan Australia melewati ruang udara Indonesia.

"Kami akan meningkatkan pelayanan untuk menjadikan 'seamless navigation' (navigasi yang terjalin langsung) karena ruang udara Australia itu di bagian Selatan, melewati Indonesia," katanya. (antara)
Silahkan berkomentar
  • Blogger Berkomentar dengan Blogger
  • Facebook Berkomentar dengan Facebook
  • Disqus Berkomentar dengan Disqus

No comments :