Tradisi dan Budaya

[tradisi][threecolumns]

Sosial dan Komunitas

[sosial][list]

Pariwisata dan Rekreasi

[pariwisata][threecolumns]

Ekonomi

[ekonomi][list]

Politik

[politik][twocolumns]

Olahraga

[olahraga][bleft]

Pendidikan

[pendidikan][list]

Kesehatan

[kesehatan][list]

Hiburan

[hiburan][threecolumns]

Lingkungan

[lingkungan][list]

Teknologi

[teknologi][list]

Administrasi Pemerintahan

[pemerintah][twocolumns]

Laporan Otonomi Baru

[pemekaran][list]

Laporan Otonomi Khusus

[otonomi khusus][list]

Hukum dan Kriminal

[hukum][threecolumns]

Kecelakaan

[kecelakaan][list]

Bencana Alam

[bencana][list]

Friday, 14 April 2017

Suku Hubula, Lani dan Yali Usulkan Pembangunan Sanggar Budaya

Suku Hubula, Lani dan Yali Usulkan Pembangunan Sanggar Budaya
WAMENA (JAYAWIJAYA) - Tiga suku besar penghuni pegunungan tengah Papua yakni Hubula, Lani dan Yali mengusulkan pembangunan sanggar budaya dan mengisinya dengan warisan budaya setempat.

"Memang ada usulan masyarakat adat Balim (pegunungan tengah Papua) untuk pembangunan sanggar seni dan budaya adat wilayah Balim, tetapi belum ada koordinasi lanjutan tentang pembangunan itu," kata Sekretaris Dewan Adat Balim Dominikus Surabut, di Wamena, ibu kota Kabupaten Jayawiajaya, Kamis.

Ia mengatakan, selama ini belum ada sanggar budaya yang dapat digunakan untuk menampung benda-benda budaya untuk diperkenalkan kepada generasi penerus.

"Jadi nanti kita taruh misalnya cerita-cerita rakyat dan ketika orang datang kita kasi penjelasan kepada mereka," katanya.

Menurut dia, ada banyak koleksi aset budaya Lembah Balim misalnya tari-tarian dan lukisan yang belum diketahui sebagian masyarakat asli terutama kaum muda.

Dewan adat, kata dia, juga akan mendorong agar kegiatan festival yang dilakukan rutin di sana bisa memberikan ajakan positif demi pembangunan masyarakat adat.

"Seharusnya yang ditampilkan adalah hal-hal yang edukatif. Artinya menampilkan budaya tetapi bagaimana ada target-target yang mengajak masyarakat untuk lebih maju, cerdas, mempertahankan nilai- nilai itu ke arah yang lebih baik," katanya.

Sebelumnya, dewan meminta pemda setempat mengaktifkan pendidikan adat mulai dari bahasa daerah, seni ukir, menyulam dalam kurikulum lokal di semua tingkatan pendidikan.

"Kami minta pemda mengaktifkan pendidikan adat yang dulunya sudah menjadi tradisi bagi masyarakat Balim seperti pesta mawi, pesta inisiasi anak laki-laki serta lagu adat Papua dimasukkan sebagai satu kurikulum lokal," katanya.

Persoalan itu, kata dia, akan disampaikan kepada Dinas Pendidikan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, serta Bappeda dan DPRD. (antara)
Silahkan berkomentar
  • Blogger Berkomentar dengan Blogger
  • Facebook Berkomentar dengan Facebook
  • Disqus Berkomentar dengan Disqus

No comments :