Tradisi dan Budaya

[tradisi][threecolumns]

Sosial dan Komunitas

[sosial][list]

Pariwisata dan Rekreasi

[pariwisata][threecolumns]

Ekonomi

[ekonomi][list]

Politik

[politik][twocolumns]

Olahraga

[olahraga][bleft]

Pendidikan

[pendidikan][list]

Kesehatan

[kesehatan][list]

Hiburan

[hiburan][threecolumns]

Lingkungan

[lingkungan][list]

Teknologi

[teknologi][list]

Administrasi Pemerintahan

[pemerintah][twocolumns]

Laporan Otonomi Baru

[pemekaran][list]

Laporan Otonomi Khusus

[otonomi khusus][list]

Hukum dan Kriminal

[hukum][threecolumns]

Kecelakaan

[kecelakaan][list]

Bencana Alam

[bencana][list]

Saturday, 8 April 2017

Surya Paloh Ingin Buka Sekolah Yayasan Sukma Bangsa (YSB) di Papua

 
HELSINSKI (FINLANDIA) - Pengusaha sekaligus tokoh pers Surya Paloh berencana dalam 2 sampai 3 tahun ke depan akan mengembangkan model pendidikan yang dikelola Yayasan Sukma Bangsa (YSB) di Papua dan daerah-daerah lainnya di Indonesia. Hal ini menjadi penting agar sukses yang dinikmati sebagian anak-anak dan para guru di Aceh juga dirasakan mereka yang tinggal di Papua.

"Insya Allah dalam 2-3 tahun ke depan saya berkomitmen untuk membangun sekolah di Papua. Selanjutnya barangkali akan ada di daerah perbatasan di Kalimantan, NTT, dan Sulawesi," kata Surya Paloh yang juga Pendiri YSB dalam acara jamuan makan malam dengan Rektor Finland University Pekka T. Saavalainen, Kamis (6/4) malam waktu setempat atau Jumat (7/4) dini hari.

Soal besarnya dana yang diperlukan, Paloh yang berdarah Aceh itu tak terlalu mengkhawatirkannya. Ia percaya dengan mengkombinasikan ketulusan hati nurani dan niat untuk tidak selalu berpikir komersial dalam mengembangkan pendidikan, hal itu bisa diwujudkan.

"Memang tak mudah ya, tapi bukan mustahil. Bagaimanapun sukses di Aceh harus ditularkan ke daerah lain. Pemda harus terlibat seperti di Aceh, misalnya dalam hal penyediaan lahan," ujar politikus NasDem ini.

Paloh mengisahkan, saat membangun sekolah di Pidie, Bireun, dan Lhokseumawe, pihak kontraktor diharamkan untuk mengambil untung. Sebaliknya juga dijanjikan untuk tidak sampai merugi. "Saya bilang kepada para kontraktor, 'you ambil satu sen saja keuntungan dari proyek ini, masuk neraka'. Tapi saya juga tak mau kalian kerja menanggung kerugian," paparnya.

Ketua Yayasan Sukma Rerie Lestari Moerdijat menambahkan, konsep pendidikan di sekolah-sekolah yang dikelola YSB menekankan pentingnya penguasaan bahasa Arab, Inggris, sekaligus juga memahami Alquran karena Aceh merupakan 'Serambi Mekah'. "Jadi bukan cuma bisa baca Quran, melainkan juga memahami isinya," ujar Rerie.

Untuk itulah, para pakar pendidikan terlibat dalam penyusunan kurikulum dasar seperti Prof Komarudin Hidayat dan Ahmad Baedowi. Salah satu target pendidikan di sekolah yang dikembangkan YSB, selain melahirkan putra-putri bangsa yang cerdas, berpengetahuan luas, juga menjunjung tinggi nilai-nilai etik dan moral, serta mandiri.

"Menerapkan konsep ini secara konsisten tentu sangat sulit, penuh tantangan dan ancaman," kata Direktur Akademik YSB Ahmad Baedowi. (detik)
Silahkan berkomentar
  • Blogger Berkomentar dengan Blogger
  • Facebook Berkomentar dengan Facebook
  • Disqus Berkomentar dengan Disqus

No comments :