Tradisi dan Budaya

[tradisi][threecolumns]

Sosial dan Komunitas

[sosial][list]

Pariwisata dan Rekreasi

[pariwisata][threecolumns]

Ekonomi

[ekonomi][list]

Politik

[politik][twocolumns]

Olahraga

[olahraga][bleft]

Pendidikan

[pendidikan][list]

Kesehatan

[kesehatan][list]

Hiburan

[hiburan][threecolumns]

Lingkungan

[lingkungan][list]

Teknologi

[teknologi][list]

Administrasi Pemerintahan

[pemerintah][twocolumns]

Laporan Otonomi Baru

[pemekaran][list]

Laporan Otonomi Khusus

[otonomi khusus][list]

Hukum dan Kriminal

[hukum][threecolumns]

Kecelakaan

[kecelakaan][list]

Bencana Alam

[bencana][list]

Thursday, 25 January 2018

Elisa Kambu Ungkap Penanganan KLB Campak Selama 1 Bulan

BOGOR, PAPUA.US - Melalui kerja sama antara pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten Asmat, penanganan kejadian luar biasa (KLB) campak ditargetan rampung dalam sebulan berjalan. Hal ini disampaikan Bupati Asmat Elisa Kambu kepada pers, usai bertemu Presiden Jokowi, di Istana Bogor, kemarin.

Dia katakan, penanganan campak sudah dilakukan pada 187 dari 224 kampung yang ada. Dia memastikan sisa kampung yang belum tertangani sedang dalam proses, dan dipastikan segera rampug beberapa pekan kedepan.

“Apalagi Presiden sudah mematok target sehingga nantinya kita bukannya menyelesaikan campak disaat ini saja, tetapi selanjutnya menjadi komitmen untuk meningkatkan ketahanan pangan maupun pelayanan kesehatan dasar agar kejadian serupa tak terulang”.

“Tapi yang terpenting adalah melakukan pembenahan infrastruktur dasar kesehatan dan ini akan menjadi fokus kita kedepan,” terang dia.

Sementara sejumlah upaya yang dilakukan untuk penangaan campak di Asmat, yaitu, melakukan pengobatan, pemberian vaksin campak maupun imunisasi kepada anak, serta menyiapkan upaya penanganan pasca KLB itu sendiri.

“Dalam artian kita merasa perlu memberikan pendampingan dan pembinaan bagi pasien yang mengalami gizi buruk. Memang ini membutuhkan pelayanan yang cukup lama namun sangat perlu untuk dilakukan,” kata dia.

Sementara disinggung mengenai relokasi masyarakat ke tempat yang baru, Elisa menyebut hal itu sulit untuk dilakukan. Sebab untuk memindahkan masyarakat di Asmat, tidak semudah seperti yang dibayangkan. Dimana, ada sejumlah aspek yang mesti dipertimbangkan seperti budaya, adat istiadat, serta hak ulayat.

“Belum lagikalau mereka pindah tidak mungkin ada hak untuk bercocok tanam dan lainnya. Namun ini akan menjadi komintmen kita untuk dituntaskan. Kedepan kita akan bangun rumah layak serta menyediakan akses pelayanan kesehatan memadai, khususnya puskesmas sehingga mampu menjangkau semua kampung. Ini akan segera kita pikirkan bersama,” terangnya.

Diberitakan sebelumnya, akibat KLB campak dan gizi buruk di Asmat, dilaporkan lebih dari 50-an anak telah meninggal dunia. (HumasPapua)
Silahkan berkomentar
  • Blogger Berkomentar dengan Blogger
  • Facebook Berkomentar dengan Facebook
  • Disqus Berkomentar dengan Disqus

No comments :