-->

Pelataran Bandara Sentani Sering Dikotori Ludah Pindang dan Puntung Rokok, Pengunjung Gerah

SENTANI (JAYAPURA)- Sampah berserakan di pelataran bandara Sentani Kabupaten Jayapura, membuat sejumlah pengunjung gerah.

“Kita bukan tidak suka, tapi kalau ludah pinang dibuang, tidak ditempatnya, ya bikin tambah kotor tempat ini,” kata Gunawan, penumpang pesawat tujuan Jakarta, kemarin.

Menurut dia, sampah plastik, punting rokok dan ludah pinang, yang dibuang serampangan, menandakan kesadaran warga menjaga kebersihan, rendah.

“Sudah ada tempatnya, tapi masih saja dibuang di lantai, saya heran ada tulisan dan peringatan dari pihak bandara, tapi tak dituruti,” ujarnya.

Memakan pinang adalah hak tiap orang. Lagipula itu merupakan budaya warga Papua turun temurun.

“Itu tradisi yang harus dilestarikan, hanya saja jangan kemudian itu dijadikan alasan untuk membuang ludah pinang dilantai,” katanya. Toh, di banyak tempat diluar Papua, menyirih (pinang atau tembakau) bukan hal baru.

Di luar negeri, beberapa orang juga menyirih untuk menjaga kualitas gigi, tapi mereka tahu aturan, maaf, bukan bilang kita di Papua tidak tahu aturan, tapi buktinya, ludah pinang dimana-mana,” ujarnya lagi.

Ia menyarankan agar pihak bandara memberlakukan aturan meludah pinang di lantai, dikenakan denda.

“Seperti di Singapura atau Negara maju lainnya, siapa yang buang sampah sembarang akan didenda,” ucapnya.

Dari pantauan wartawan, pelataran didepan ruang kedatangan dan keberangkatan terlihat amat kotor. Petugas sibuk membersihkan, namun tetap saja ada yang membuang puntung ke lantai. Tempat sampah yang disediakan juga digunakan untuk meludah. Warnanya berubah merah.[ALDP| DetikTravel]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Iklan Bawah Artikel


Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari  Papua Untuk Semua di Grup Telegram Papua Untuk Semua. Klik link https://t.me/PapuaCom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.

Papua Untuk Semua - Jendela Anak Tanah