Tradisi dan Budaya

[tradisi][threecolumns]

Sosial dan Komunitas

[sosial][list]

Pariwisata dan Rekreasi

[pariwisata][threecolumns]

Ekonomi

[ekonomi][list]

Politik

[politik][twocolumns]

Olahraga

[olahraga][bleft]

Pendidikan

[pendidikan][list]

Kesehatan

[kesehatan][list]

Hiburan

[hiburan][threecolumns]

Lingkungan

[lingkungan][list]

Teknologi

[teknologi][list]

Administrasi Pemerintahan

[pemerintah][twocolumns]

Laporan Otonomi Baru

[pemekaran][list]

Laporan Otonomi Khusus

[otonomi khusus][list]

Hukum dan Kriminal

[hukum][threecolumns]

Kecelakaan

[kecelakaan][list]

Bencana Alam

[bencana][list]

Sunday, 31 May 2015

Klinik Wali Hole Layani Pasien HIV/AIDS Secara Gratis

WAENA (KOTA JAYAPURA) - Klinik Wali Hole di Kampung Yoka, Distrik Heram, Kota Jayapura menampung sejumlah pasien yang terinveksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS). Menurut Konsultan HIV/AIDS, Agnella Chingwaro, selama menerima pasien pihaknya juga menyediakan obat-obatan HIV/AIDS secara gratis.

“Kasih sayang merupakan modal utama para petugas dalam melayani pasien. Maka, kami melakukan menerima pemeriksaan HIV/AIDS secara gratis. Juga menyediakan obat-obatan HIV/AIDS secara gratis,” kata Agnella Chingwara dalam kegiatan Workshop Pemetapan Isu Kesehatan di aula Balai Sosial Kamkei, Abepura, Jumat (29/5).

Selain itu, Agnella menjelaskan, ide untuk membuka klinik ini dibentuk oleh Sinode GKI Papua pada tahun 1996 melalui Departemen Diakonia. Pihaknya melakukan pelayanan konseling Pastoral terutama kepada pasien maupun keluarga secara gratis. “Kami melakukan juga pendidikan, pembinaan, pelatihan secara gratis,” kata Agnella Chingwaro.

Wanita berkebangsaan Afrika ini membeberkan, hadirnya klinik ini sebagai wujud Care and Service Integrated bagi saudara-saudara yang terinveksi HIV, maka berkomitmen untuk merahasiakan status penderita.

Menurutnya, untuk mengkonsumsi makanan bergizi pihaknya mengandalkan pangan lokal sehari-hari. “Model pelayanan itu lainnya adalah dengan mendampingi pasien minum obat secara teratur dan mengkonsumsi makanan bergizi, maka kita mengurangi kematian orang dengan HIV AIDS,” ucapnya.

Hal senada juga disampaikan, Veronika Yoku selaku kordinator perawatan tuberkulosis (TB). Ia mengatakan selain menerima penderita HIV, pihaknya juga menerima pasien yang menderita TB.

“Orang bilang TB itu sakitnya masyarakat. Artinya cepat menular kepada siapa saja, dalam waktu yang relative singkat. Maka, kami banyak melayani dan menolong mereka,” katanya.

Sehingga, lanjutnya, para pasien itu setelah sembuh pihaknya menahan sebagai pelayan di klinik itu untuk melayani pasien lainnya.

“Kami tempatkan mereka di dapur untuk masak makanan, cleaning service, jadi sopir, satpam dan lainnya,” ungkapnya. [Jubi]
Silahkan berkomentar
  • Blogger Berkomentar dengan Blogger
  • Facebook Berkomentar dengan Facebook
  • Disqus Berkomentar dengan Disqus

No comments :