Tradisi dan Budaya

[tradisi][threecolumns]

Sosial dan Komunitas

[sosial][list]

Pariwisata dan Rekreasi

[pariwisata][threecolumns]

Ekonomi

[ekonomi][list]

Politik

[politik][twocolumns]

Olahraga

[olahraga][bleft]

Pendidikan

[pendidikan][list]

Kesehatan

[kesehatan][list]

Hiburan

[hiburan][threecolumns]

Lingkungan

[lingkungan][list]

Teknologi

[teknologi][list]

Administrasi Pemerintahan

[pemerintah][twocolumns]

Laporan Otonomi Baru

[pemekaran][list]

Laporan Otonomi Khusus

[otonomi khusus][list]

Hukum dan Kriminal

[hukum][threecolumns]

Kecelakaan

[kecelakaan][list]

Bencana Alam

[bencana][list]

Friday, 30 October 2015

Yunus Wonda Minta Gubernur Cabut Izin Perusahaan Kelapa Sawit

KOTA JAYAPURA - Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Papua (DPRP) Yunus Wonda meminta Gubernur Lukas Enembe untuk mencabut izin perusahaan perkebunan kelapa sawit yang beroperasi di wilayah Papua.

"Kami justru minta ke gubernur untuk cabut semua izin kelapa sawit, tidak perlu ada di Papua. Coba lihat di Arso, kelapa sawit buat tanah didaerah itu rusak, tidak bisa bercocok tanam lagi," ucapnya di Jayapura, Kamis.

Wonda mengaku tidak pernah setuju bila ada investor kelapa sawit yang masuk ke Papua karena ia menganggap ada maksud lain dibalik hal tersebut.

"Saya secara pribadi tidak setuju namanya kelapa sawit di Papua. Karena kelapa sawit sebenarnya merusak lingkungan disitu. Dan kalau saya lihat selama ini, sebenarnya kelapa sawit hanya pintu masuk saja, tujuan utamanya adalah kayu yang ada disitu," ucap dia.

"Sekarang saya tanya, setelah mau tanam pohon sawit, pohon-pohon besar itu ada dimana, setelah selesai dibakar tidak kelihatan pohon-pohon besar itu," sambung Wonda.

Karenanya, ia pun meminta kepada pemerintah untuk menutup peluang bagi investor kelapa sawit masuk ke Papua guna menyelamatkan lingkungan yang telah ditetapkan sebagai paru-paru dunia.

"Kepada mereka yang punya modal-modal untuk tanam kelapa sawit itu stop saja, mending cari pulau lain, jangan di Papua," ucap dia.

Wonda pun mengemukakan, bencana kabut asap yang terjadi di Indonesia, termasuk juga di Papua, diidentifikasi karena pembukaan lahan yang diperuntukkan pembuatan perkebunan kelapa sawit, karenanya ia menilai hal tersebut lebih banyak menyebabkan kerugian bagi masyaakat dibanding manfaatnya.

"Kalau kami ikuti, ini dalam sejarah asap bisa tutup bandara, baik di Papua maupun Papua Barat. Artinya selama ini tidak pernah, artinya kalau mau tanam kelapa sawit langsung ribuan hekar, kalau hanya petak-petak saja ga ada nilai ekonomisnya," ujar dia.

Terlebih menurutnya, operasional perkebunan kelapa sawit memerlukan tenaga terampil, dan hal tersebut belu tersedia di Papua.

"Kalau di Malaysia, persoalan kelapa sawit bukan hanya soal menanam saja, tapi skill, produknya kemana, bagaimana cara orang mengolah, itu butuh kekhususan, orang-orang yang memang secara khusus disiapkan," kata Wonda. [Antara]
Silahkan berkomentar
  • Blogger Berkomentar dengan Blogger
  • Facebook Berkomentar dengan Facebook
  • Disqus Berkomentar dengan Disqus

No comments :