Tradisi dan Budaya

[tradisi][threecolumns]

Sosial dan Komunitas

[sosial][list]

Pariwisata dan Rekreasi

[pariwisata][threecolumns]

Ekonomi

[ekonomi][list]

Politik

[politik][twocolumns]

Olahraga

[olahraga][bleft]

Pendidikan

[pendidikan][list]

Kesehatan

[kesehatan][list]

Hiburan

[hiburan][threecolumns]

Lingkungan

[lingkungan][list]

Teknologi

[teknologi][list]

Administrasi Pemerintahan

[pemerintah][twocolumns]

Laporan Otonomi Baru

[pemekaran][list]

Laporan Otonomi Khusus

[otonomi khusus][list]

Hukum dan Kriminal

[hukum][threecolumns]

Kecelakaan

[kecelakaan][list]

Bencana Alam

[bencana][list]

Thursday, 13 April 2017

Ini Penyebab Marga Iruwata, Wariwata dan Tamboa Punah dari Teluk Wondama

 
MANOKWARI - Populasi penduduk dari tiga fam (marga) di Kabupaten Teluk Wondama, Provinsi Papua Barat, punah yang diduga akibat buruknya pelayanan kesehatan di daerah tersebut.

Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Manokwari Filep Wamafma pada jumpa jumpa pers di Manokwari, Selasa mengatakan, STIH bersama tim dari Universitas Atmajaya Yogyakarta melaksanakan penelitian hukum adat beberapa suku di Teluk Wondama.

"Selama tujuh hari kami berada di Wondama, antara 3 hingga 10 April. Penelitian kami laksanakan di Distrik Dianer dan Naikere," kata dia.

Dia menyebutkan, tiga marga yang sudah dinyatakan punah tersebut, yakni Iruwata dan Wariwata dari Suku Miere dan Tamboa dari Suku Mairasi. Dua suku tersebut berada di Distrik Naikere Teluk Wondama.

Filep mengutarakan, Suku Miere memiliki delapan marga dan Mairasi lebih dari enam marga.

"Dari data yang kami peroleh masih ada beberapa marga nyaris punah. Ada faktor atau penyebab yang harus menjadi perhatian semua pihak terutama pemerintah daerah," kata Filep.

Dia mengutarakan, pelayanan kesehatan di daerah tersebut cukup buruk. Kepunahan tiga marga ini terjadi salah satunya akibat kematian yang terjadi saat proses persalinan.

Kasus tersebut, kata dia, terjadi berulang kali selama beberapa tahun. Pada tahun 2014 lalu, generasi tiga marga tersebut punah total.

Dari keterangan kepala suku setempat, tidak ada pelayanan kesehatan yang dapat dimanfaatkan warga pedalaman tersebut.

"Tidak ada Puskesmas, bidan maupun petugas kesehatan yang datang melayani warga. Kematian bayi dan ibu saat proses persalinan cukup sering terjadi," katanya.

Dia berharap, hasil penelitian tersebut menjadi referensi bagi pemerintah daerah sehingga bisa mengevaluasi dan mendorong pelayanan kesehatan di daerah tersebut. (antara)
Silahkan berkomentar
  • Blogger Berkomentar dengan Blogger
  • Facebook Berkomentar dengan Facebook
  • Disqus Berkomentar dengan Disqus

No comments :