Tradisi dan Budaya

[tradisi][threecolumns]

Sosial dan Komunitas

[sosial][list]

Pariwisata dan Rekreasi

[pariwisata][threecolumns]

Ekonomi

[ekonomi][list]

Politik

[politik][twocolumns]

Olahraga

[olahraga][bleft]

Pendidikan

[pendidikan][list]

Kesehatan

[kesehatan][list]

Hiburan

[hiburan][threecolumns]

Lingkungan

[lingkungan][list]

Teknologi

[teknologi][list]

Administrasi Pemerintahan

[pemerintah][twocolumns]

Laporan Otonomi Baru

[pemekaran][list]

Laporan Otonomi Khusus

[otonomi khusus][list]

Hukum dan Kriminal

[hukum][threecolumns]

Kecelakaan

[kecelakaan][list]

Bencana Alam

[bencana][list]

Tuesday, 11 March 2014

Komunitas Riyana Waena Buat 5 Film Pendek Tentang Kesehatan di Papua

WAENA (KOTA JAYAPURA) - Untuk menyuarakan kesehatan di Papua, para mahasiswa dan aktivis pemerhati kesehatan di Jayapura, membentuk sebuah komunitas bernama ‘Komunitas Riyana Waena.’ Mereka membuat film dokumenter tentang pelayanan kesehatan di wilayah paling timur ini.

Ada lima film dokumenter yangmereka hasilkan, yakni “Rumah Kasih” berdurasi 10 menit,  “Kutunggu Demi Kesehatan Anakku” berdurasi delapan menit, “Aman Itu Sehat” berdurasi 11 menit, “Kalian Kemana?” berdurasi tujuh menit, dan “Pesan Cinta Dari Suster” yang berdurasi sembilan menit.

Pemutaran berikut diskusi kelima film itu berlangsung di Aula STPK di Perumnas II Waena, Abepura, Kota Jayapura, Papua, Minggu malam (09/03/2014) di hadapan mahasiswa dan pelajar.

Ketua Komunitas Riyana Waena, Niko Tunyanan saat diskusi mengatakan, kehadiran komunitas yang beranggotakan mahasiswa dan aktivis ini bertujuan membantu menyuarakan isu-isu kesehatan lewat media, yakni melalui film dokumenter dan tulisan (buletin).

“Bagaimana mereka bisa menyuarakan kesehatan sampai-sampai ke kampung lewat media film dokumenter dan tulisan karena media dianggap paling ampuh dan pas di masyarakat yang diam di kampung-kampung,” kata Niko.

Dia mengatakan, film dokumenter dan buletin yang dihasilkan itu berkat dukungan dari Kinerja-Usaid Jakarta. Riyana Waena terbentuk setelah pihaknya mendapat pelatihan tentang pembuatan film dokumenter dan menulis dari kinerja-Usaid Jakarta, Februari lalu.

“Modal nekad dan komitmen, kami bentuk komunitas ini. Kami jalan apa adanya. Meski demikian, kami akan tetap kampanyekan kesehatan,” tutur Niko.

Niko menambahkan, kelima film itu mengambil sejumlah lokasi berbeda, di antaranya di Puskesmas Pembantu Waena, Bumi Perkemahan (Buper) Expo, Perumnas I Waena, Puskesmas Arso Kota, Kabupaten Keerom dan di Tanjung Elmo, Sentani, Kabupaten Jayapura.

“Pembuatan kelima film tersebut dilakukan berdasarkan investigasi dan diskusi panjang yang memakan waktu satu bulan,” imbuhnya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif UP2KP di Jayapura, drg. Aloysius Giyai, selaku praktisi kesehatan menyatakan terima kasih karena ada orang awam yang peduli tentang kesehatan, baik personal mapun kelompok.

“Yang terpenting kan pekerjaan apapun, yang menjadi sasaran kita itu apa? Yang tadi baru dibicarakan tadi itu adalah sebuah proses untuk mencapai sasaran yang diinginkan,” kata Aloysius menanggapi film dokumenter yang diputar itu.

Ke depan, lanjut pria yang baru saja dilantik menjadi kepala dinas kesehatan provinsi Papua itu, pihaknya akan bermitra dengan berbagai kelompok termasuk komunitas Riyana Waena.

“Khusus di Papua, sejak awal sudah salah arah, sehingga rencana pembangunan di Papua ikut salah. Bukan setelah otonomi khusus, tapi sebelum otonomi khusus sudah salah. Jadi, penanganan kesehatan di Papua ini salah arah,” tutur Aloysius. [TabloidJubi]
Silahkan berkomentar
  • Blogger Berkomentar dengan Blogger
  • Facebook Berkomentar dengan Facebook
  • Disqus Berkomentar dengan Disqus

No comments :